Rabu, 31 Mei 2017

Perkembangan Mukjizat Nabi: Sebuah Pendapat Awam

Sebelumnya, izinkan saya menyampaikan bahwa ini hanyalah pendapat pribadi saya dari hasil perenungan. Saya tergolong awam dalam ilmu agama, jadi anggaplah tulisan ini sekadar sebagai opini, bukan fatwa ulama yang wajib diikuti.

Ini berawal dari rasa penasaran saya. Suatu ketika, muncul sebuah pertanyaan dari benak saya: mengapa nabi-nabi terdahulu memiliki mukjizat yang ajaib, sedangkan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir tidak memiliki keajaiban-keajaiban seperti itu?

Saya jadi ingat sedikit pelajaran sejarah. Ketika dulu umat manusia masih primitif, pikiran mereka begitu sederhana dan belum mampu mencerna fenomena alam. Karena tidak mampu menjelaskan fenomena-fenomena tersebut, mereka mengaitkannya dengan hal mistik dan membuat cerita tentang itu. Misal, ketika petir menyambar, mereka langsung berasumsi bahwa dewa petir marah sehingga menyambarkan petir ke tanah mereka. Inilah cikal bakal mitologi.

Meski demikian, orang-orang primitif juga memiliki penghormatan yang tinggi terhadap fenomena-fenomena alam. Mereka mengamati bahwa di alam ini terdapat siklus kelahiran dan kematian, dan menciptakan simbol-simbol tentang itu, misalnya lingga dan yoni, dewa & dewi kesuburan, dll. Terdapat juga ritual-ritual penghormatan untuk beragam fenomena alam tersebut. Animisme dan dinamisme telah dimulai.

Orang-orang primitif ini sebetulnya telah melihat kuasa Tuhan dalam fenomena-fenomena alam, namun mereka belum bisa memahami Tuhan yang sesungguhnya. Bisa jadi, inilah yang berlanjut menjadi penyembahan berhala-berhala oleh kaum-kaum terdahulu.

Maka diutuslah para nabi untuk kaum-kaum tersebut. Para nabi tersebut diberi mukjizat yang ajaib dengan izin Allah, misalnya Ibrahim yang tidak hangus dibakar, tongkat Musa yang bisa berubah menjadi ular, Isa Al-Masih yang dapat membangkitkan orang mati dan sentuhan tangannya dapat menyembuhkan segala penyakit, dan lain sebagainya.

Mungkin, tujuan mukjizat itu diturunkan adalah agar kaum-kaum (yang mungkin masih memiliki pola pikir primitif) tersebut menyaksikan bahwasanya ada satu Tuhan Maha Besar yang melampaui dan telah menciptakan fenomena-fenomena alam yang mereka ketahui dan simbolkan. Ada sebagian orang yang langsung beriman ketika mukjizat itu datang, misalnya para penyihir Firaun yang melihat kekuatan ular dari tongkat Nabi Musa. Namun ada juga sebagian orang yang tetap ingkar meskipun telah menyaksikan mukjizat itu, seperti kaum Tsamud yang membunuh unta betina yang dikeluarkan dari batu oleh Nabi Saleh atas izin Allah.

Namun semuanya berubah ketika masa Nabi Muhammad.

Diketahui, kaum Quraisy menjadikan Ka'bah di Mekkah sebagai pusat penyembahan berhala. Setiap tahun, banyak kaum lain yang datang ke Mekkah untuk melakukan ritual penyembahan. Kaum Quraisy melihat ini sebagai peluang ekonomi, sehingga mereka juga memperdagangkan berhala-berhala kepada kaum-kaum yang berkunjung. Bagi kaum Quraisy, penyembahan berhala sudah tidak semata-mata lagi bersifat ritualistik dan religius, namun juga penyokong ekonomi utama kota Mekkah pada masa itu. Maka, ketika Rasulullah datang membawa Islam yang notabene mengharamkan penyembahan berhala, tentu kaum Quraisy menganggap itu sebagai ancaman. Bukan hanya ancaman terhadap "agama" mereka, melainkan juga ancaman terhadap mata pencaharian dan tatanan sosial yang sudah mapan.

Dengan kata lain, kaum Quraisy sudah tidak berpikiran primitif lagi. Mereka sudah berpikir secara lebih canggih dan rasional. Karena itulah, jika mereka ditampakkan suatu mukjizat yang ajaib, mereka justru tidak akan beriman dan menganggap semua itu hanya sihir atau tipuan sulap belaka. Cara yang paling cocok untuk meyakinkan mereka akan keberadaan Allah adalah melalui argumentasi.

Karena itulah, Nabi Muhammad diberikan wahyu Al-Qur'an sebagai argumentasi-argumentasi ilahiah dan ilmiah untuk menghadapi argumen-argumen kaum kafir. Jika kita menelisik isi Al-Qur'an lebih dalam (saya masih perlu banyak belajar dalam hal ini), niscaya kita akan menemukan ayat-ayat yang mengharuskan kita untuk berpikir, merenung, dan berargumentasi dengan baik. Atau dengan kata lain, meyakini agama dengan ilmu, bukan meyakini dengan iman doktriner yang kopong isinya.

Sekali lagi, ini hanya pendapat semata. Boleh disepakati, boleh juga tidak. Bagaimana pun, semoga tulisan ini tetap bisa memberi manfaat untuk kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar