"Setiap orang memiliki candu," kata seseorang yang saya lupa namanya dan pernah saya baca di buku yang judulnya pun saya juga lupa. Tapi bila direnungkan, ada benarnya juga.
Setiap orang memiliki ketertarikan terhadap hal tertentu dan selera yang berbeda. Setiap orang juga memiliki sesuatu yang membuat mereka bersemangat untuk melakukan hal-hal yang sejalan dengan sesuatu itu. Kaum milenial menyebutnya renjana atau passion. Yang terpenting, ketertarikan itu dapat membuat hidup menjadi lebih baik. Itulah "candu" positif.
Tak bisa dipungkiri, dalam perjalanan hidup, seseorang dapat tertimpa musibah dan trauma. Untuk mengatasi trauma itu, orang melakukan coping mechanism atau mekanisme pelipuran. Biasanya untuk melipur luka psikis, orang akan melakukan suatu hal yang lain dan berusaha melupakan traumanya meski kadang tidak berhubungan. Misalnya, ketika stres orang dapat saja makan lebih banyak untuk melupakan stresnya. Ada juga kebiasaan lain yang mungkin dilakukan untuk pelipuran tersebut, misalnya melihat meme dan guyonan instan di internet, tidak makan, bekerja lebih giat dari biasanya, merokok atau bahkan mengonsumsi narkotika, sampai yang terburuk ialah bunuh diri. Di sinilah mulai muncul potensi "candu" negatif.
Sebagaimana kata pepatah bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kebiasaannya (atau candunya), maka sedapat mungkin kita perlu mengubah kebiasaan buruk kita menjadi kebiasaan baik. Tentu saja, itu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keinginan dan kuat, tindakan, dan konsistensi yang tidak sedikit.
Dan mungkin saja, menulis dapat menjadi salah satu alternatif candu yang baik untuk terapi jiwa kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar