Sekarang sudah masuk Era Informasi. Semua serba terhubung, semua serba digital, semua serba internet.
Saya yang termasuk generasi peralihan analog ke digital, kadang pusing melihat betapa derasnya arus informasi membombardir otak saya yang hanya seberat tidak sampai 2 kg.
Masalahnya, dari semua informasi itu, hanya 10% yang bermanfaat. 90% di antaranya berupa hoaks dan faktap (fakta tidak penting). Hoaks jelas-jelas berita bohong, sehingga sudah pasti tidak bermanfaat. Sedangkan faktap memang merupakan sesuatu yang benar, tapi kurang berguna untuk kita (karena tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dsb.).
Masalah lainnya lagi, kita harus selalu aktif menyaring informasi yang kebanjiran itu. Otak kita harus selalu menyala, selalu memilah, aktif mencari dan tahu dengan jelas apa info yang mau dicari (jika tidak, bersiaplah kebanjiran dan hanyut dalam samudra internet penuh meme yang tidak jelas akan membawamu ke mana). Dan semua kegiatan ini sangat melelahkan otak kita bila dilakukan terus menerus berjam-jam nonstop, apalagi setiap saat orang selalu menatap layar smartphone kesayangan mereka.
Tiba-tiba saya jadi terpikir sebuah perumpamaan.
Mengonsumsi informasi di internet seperti makan permen cokelat. Rasanya memang nikmat dan bisa dimakan habis dalam sekali kunyah. Namun kalau kebanyakan bisa bikin diabetes.
Sedangkan, mengonsumsi informasi dari buku ibarat makan besar, daging dan sayuran. Memang lama untuk dicerna, tapi nilai gizinya lebih tinggi.
Intinya, meski kita ada dalam zaman yang digital ini, jangan lupakan kenyataan yang analog juga. Bahan bacaan jangan cuma konten internet saja, jangan lupa buku juga dibaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar