Banyak orang beranggapan bahwa kejahatan selalu "menempel" pada segolongan orang tertentu. Misalnya, orang-orang yang kaya, orang-orang berkedudukan tinggi, dan lain sebagainya. Maka muncullah pameo "harta, tahta, wanita" yang harus selalu diwaspadai bahkan kalau perlu dihindari.
Saya termasuk yang tidak percaya dengan anggapan demikian.
Semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk melakukan kejahatan, tak peduli bagaimana keadaannya ataupun dari golongan mana ia berasal. Begitupun tentang kebaikan. Orang kaya memang bisa jahat, namun tidak sedikit juga orang kaya yang baik. Orang miskin sebagian besar memang tak jahat, namun ada juga yang jahat.
Apa contohnya orang kaya jahat? Koruptor, cukong penebangan liar, dsb. Apa contohnya orang kaya baik? Para dermawan seperti Bill Gates.
Apa contohnya orang miskin baik? Para kaum papa yang bekerja keras. Apa contohnya orang miskin jahat? Begal, perampok, preman, dan lain sebagainya.
Sama saja.
Mungkin karena media banyak menggambarkan orang miskin sebagai kaum mulia dan kaum kaya sebagai antagonis, maka banyak orang membenci orang kaya dan membenci kekayaan. Bila direnungkan lagi, bukankah rasa benci terhadap orang kaya (kaum borjuis) itulah pupuk dasar dari paham komunisme?
Maka itu, rasanya lebih baik jika kita semua menjadi kaya. Meskipun tidak sepenuhnya terhindar dari resiko melakukan keburukan, dengan adanya kekayaan yang lebih, kita jadi memiliki kapasitas lebih besar untuk menolong yang membutuhkan. Itu sudah satu nilai plus, bukan?
Saya harap kita semua terhindar dari kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan pola pikir.
***
ditulis sebagai rasa prihatin atas "mindset miskin" seperti yang dikisahkan pada catatan Facebook ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar