Perang adalah neraka. Kita sering mendengar cerita-cerita sejarah tentang betapa ganasnya peperangan. Namun, apakah kita betul-betul merasakan langsung keganasan itu?
Sebuah video game berjudul This War of Mine karya 11 Bit Studios dapat memberikan gambaran tentang bagaimana derita orang-orang ketika perang. This War of Mine sama sekali tidak seperti game perang pada umumnya yang menempatkan kita sebagai prajurit yang dengan riang menembaki pasukan lawan. Dalam game kita ini justru berperan sebagai warga sipil yang terjebak di tengah medan perang. Dengan segala cara, kita harus mampu bertahan hidup dalam neraka perang tersebut.
Atas keberhasilannya menyampaikan atmosfer emosional otentik mengenai kengerian perang dari sudut pandang warga sipil biasa, This War of Mine berbagai penghargaan. Salah satunya, ia meraih posisi ketiga dalam jajaran 15 video game terbaik tahun 2014 versi majalah TIME.
Game orisinalnya dapat dibeli di Steam dengan harga terjangkau, apalagi saat diskon.
Jika berkenan, Anda juga bisa mendaftar di Babel Project - This War of Mine, sebuah proyek inisiatif komunitas untuk menerjemahkan This War of Mine ke berbagai bahasa di seluruh dunia. Siapa tahu? Mungkin suatu saat game fenomenal ini dapat dinikmati dalam Bahasa Indonesia, dan itu adalah berkat bantuan Anda.
Selasa, 20 Juni 2017
Puisi: Purnama Atas Mentari
Mentari merajai siang terang
Purnama melindungi malam kelam
Terik mentari membakar semangat orang bekerja
Teduh purnama melipur lelah orang menutup harinya
Purnama tak berarti tanpa mentari
Sebab ia meminjam pantul sinarnya
Namun bila mentari terus bersinar terik
Malam teduh takkan ada
Purnama melindungi malam kelam
Terik mentari membakar semangat orang bekerja
Teduh purnama melipur lelah orang menutup harinya
Purnama tak berarti tanpa mentari
Sebab ia meminjam pantul sinarnya
Namun bila mentari terus bersinar terik
Malam teduh takkan ada
Minggu, 18 Juni 2017
Puisi: Garis Mati
Akankah engkau biarkan
Sebuah garis mati
Mendefinisikan engkau?
Akankah engkau biarkan
Sebuah garis mati
Menjadikan terpisah
Semua yang satu?
Akankah garis mati
Membelah jiwa manusia
Memisahkan mereka
Dari realita semestanya?
Sebuah garis mati
Mendefinisikan engkau?
Akankah engkau biarkan
Sebuah garis mati
Menjadikan terpisah
Semua yang satu?
Akankah garis mati
Membelah jiwa manusia
Memisahkan mereka
Dari realita semestanya?
Sabtu, 17 Juni 2017
Tulisan Terkejar Waktu
Idealnya, sebuah tulisan diberikan waktu yang panjang untuk diselesaikan. Dalam waktu panjang itu, ide yang ada dapat dituliskan berulang kali (disunting) agar dapat menjadi tulisan yang baik mendekati sempurna.
Kenyataannya, tidak sedikit situasi di mana seseorang harus bisa menyelesaikan tulisannya secepat mungkin. Tidak banyak waktu yang bisa digunakan untuk menyempurnakan tulisan tersebut. Bila sudah terkejar waktu demikian, yang ada hanyalah pikiran segeralah selesai.
Namun tidak mengapa. Bukankah tulisan biasa yang selesai lebih bernilai ketimbang tulisan sempurna yang tak pernah selesai?
Kenyataannya, tidak sedikit situasi di mana seseorang harus bisa menyelesaikan tulisannya secepat mungkin. Tidak banyak waktu yang bisa digunakan untuk menyempurnakan tulisan tersebut. Bila sudah terkejar waktu demikian, yang ada hanyalah pikiran segeralah selesai.
Namun tidak mengapa. Bukankah tulisan biasa yang selesai lebih bernilai ketimbang tulisan sempurna yang tak pernah selesai?
Netral Terhadap Kemenangan dan Kekalahan
Hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Kemenangan dan kekalahan datang silih berganti, sama halnya kebaikan dan keburukan maupun keberuntungan dan kesialan.
Hati orang pun juga berputar. Mereka gembira ketika mendapat kemenangan, namun bersedih ketika mendapat kekalahan. Kadang respon perasaan itu pun tak proporsional. Orang yang gembira karena menang kadang menjadi jumawa, merasa bahwa kemenangan itu akan berlangsung terus menerus. Orang yang sedih karena kalah pun kadang menjadi merana, seolah kekalahan itu akan berlangsung tiada akhir.
Padahal semua itu sementara.
Kadang ada sementara yang rentangnya sekejap saja, seperti pengendara motor yang kurang konsentrasi sebentar kemudian langsung terjatuh dari motornya. Namun ada pula sementara yang rentangnya cukup panjang, seperti perusahaan persewaan film Blockbuster yang telah merajai bidangnya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya bangkrut karena ditelan perkembangan teknologi internet yang sangat memudahkan akses terhadap film.
Hakikatnya sama saja. Sebentar ataupun lama, itu tetap sementara.
Sehingga, tak perlulah kita gembira berlebihan bila mendapat kemenangan. Pun tak perlu kita sedih berlebihan bila mendapat kekalahan. Sebab semua itu hanya sementara.
Yang abadi hanyalah Allah.
Hati orang pun juga berputar. Mereka gembira ketika mendapat kemenangan, namun bersedih ketika mendapat kekalahan. Kadang respon perasaan itu pun tak proporsional. Orang yang gembira karena menang kadang menjadi jumawa, merasa bahwa kemenangan itu akan berlangsung terus menerus. Orang yang sedih karena kalah pun kadang menjadi merana, seolah kekalahan itu akan berlangsung tiada akhir.
Padahal semua itu sementara.
Kadang ada sementara yang rentangnya sekejap saja, seperti pengendara motor yang kurang konsentrasi sebentar kemudian langsung terjatuh dari motornya. Namun ada pula sementara yang rentangnya cukup panjang, seperti perusahaan persewaan film Blockbuster yang telah merajai bidangnya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya bangkrut karena ditelan perkembangan teknologi internet yang sangat memudahkan akses terhadap film.
Hakikatnya sama saja. Sebentar ataupun lama, itu tetap sementara.
Sehingga, tak perlulah kita gembira berlebihan bila mendapat kemenangan. Pun tak perlu kita sedih berlebihan bila mendapat kekalahan. Sebab semua itu hanya sementara.
Yang abadi hanyalah Allah.
Kamis, 15 Juni 2017
Puisi: Malam Putih
Mentari terbenam ke timur
Mulailah malam tiba
Yang tak lagi kelam
Malam kini berwarna putih
Dihias gemintang yang menyedot sinar
Dan siang berwarna gelap
Dinaungi mentari yang tetap menyala
Wahai manusia
Saat kau hilang daya pikirmu
Saat realita berada di luar genggammu
Mana lagi yang bisa engkau percaya?
Mulailah malam tiba
Yang tak lagi kelam
Malam kini berwarna putih
Dihias gemintang yang menyedot sinar
Dan siang berwarna gelap
Dinaungi mentari yang tetap menyala
Wahai manusia
Saat kau hilang daya pikirmu
Saat realita berada di luar genggammu
Mana lagi yang bisa engkau percaya?
Selasa, 13 Juni 2017
Keriuhan Digital
Era digital membuat semuanya jadi serba riuh. Kita sibuk memandang media sosial, mengurus urusan orang lain yang seringkali tidak relevan dengan urusan kita sendiri.
Semua menjadi riuh, karena tsunami informasi yang tiap hari menghunjam kepala. Energi pikiran lekas terkuras untuk menyaring kesemua informasi itu, menyisakan sedikit sekali untuk kehidupan diri sendiri.
Manusia menjadi terkoneksi dengan dunia, namun terputus dengan jiwanya masing-masing.
Semua menjadi riuh, karena tsunami informasi yang tiap hari menghunjam kepala. Energi pikiran lekas terkuras untuk menyaring kesemua informasi itu, menyisakan sedikit sekali untuk kehidupan diri sendiri.
Manusia menjadi terkoneksi dengan dunia, namun terputus dengan jiwanya masing-masing.
Senin, 12 Juni 2017
Puisi: Yakinkah Engkau?
Aku mampu berikan satu
Namun engkau meminta dua
Kubantu engkau satu dan lain hal
Namun kau tetap merasa tak terbantu
Kuberi engkau jantungku
Namun engkau belum merasa cukup
Aku yakin kepadamu
Namun yakinkah engkau padaku?
Yakinkah engkau pada dirimu?
Namun engkau meminta dua
Kubantu engkau satu dan lain hal
Namun kau tetap merasa tak terbantu
Kuberi engkau jantungku
Namun engkau belum merasa cukup
Aku yakin kepadamu
Namun yakinkah engkau padaku?
Yakinkah engkau pada dirimu?
Minggu, 11 Juni 2017
Kejahatan Bisa Menjangkiti Siapa Pun
Banyak orang beranggapan bahwa kejahatan selalu "menempel" pada segolongan orang tertentu. Misalnya, orang-orang yang kaya, orang-orang berkedudukan tinggi, dan lain sebagainya. Maka muncullah pameo "harta, tahta, wanita" yang harus selalu diwaspadai bahkan kalau perlu dihindari.
Saya termasuk yang tidak percaya dengan anggapan demikian.
Semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk melakukan kejahatan, tak peduli bagaimana keadaannya ataupun dari golongan mana ia berasal. Begitupun tentang kebaikan. Orang kaya memang bisa jahat, namun tidak sedikit juga orang kaya yang baik. Orang miskin sebagian besar memang tak jahat, namun ada juga yang jahat.
Apa contohnya orang kaya jahat? Koruptor, cukong penebangan liar, dsb. Apa contohnya orang kaya baik? Para dermawan seperti Bill Gates.
Apa contohnya orang miskin baik? Para kaum papa yang bekerja keras. Apa contohnya orang miskin jahat? Begal, perampok, preman, dan lain sebagainya.
Sama saja.
Mungkin karena media banyak menggambarkan orang miskin sebagai kaum mulia dan kaum kaya sebagai antagonis, maka banyak orang membenci orang kaya dan membenci kekayaan. Bila direnungkan lagi, bukankah rasa benci terhadap orang kaya (kaum borjuis) itulah pupuk dasar dari paham komunisme?
Maka itu, rasanya lebih baik jika kita semua menjadi kaya. Meskipun tidak sepenuhnya terhindar dari resiko melakukan keburukan, dengan adanya kekayaan yang lebih, kita jadi memiliki kapasitas lebih besar untuk menolong yang membutuhkan. Itu sudah satu nilai plus, bukan?
Saya harap kita semua terhindar dari kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan pola pikir.
***
ditulis sebagai rasa prihatin atas "mindset miskin" seperti yang dikisahkan pada catatan Facebook ini.
Saya termasuk yang tidak percaya dengan anggapan demikian.
Semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk melakukan kejahatan, tak peduli bagaimana keadaannya ataupun dari golongan mana ia berasal. Begitupun tentang kebaikan. Orang kaya memang bisa jahat, namun tidak sedikit juga orang kaya yang baik. Orang miskin sebagian besar memang tak jahat, namun ada juga yang jahat.
Apa contohnya orang kaya jahat? Koruptor, cukong penebangan liar, dsb. Apa contohnya orang kaya baik? Para dermawan seperti Bill Gates.
Apa contohnya orang miskin baik? Para kaum papa yang bekerja keras. Apa contohnya orang miskin jahat? Begal, perampok, preman, dan lain sebagainya.
Sama saja.
Mungkin karena media banyak menggambarkan orang miskin sebagai kaum mulia dan kaum kaya sebagai antagonis, maka banyak orang membenci orang kaya dan membenci kekayaan. Bila direnungkan lagi, bukankah rasa benci terhadap orang kaya (kaum borjuis) itulah pupuk dasar dari paham komunisme?
Maka itu, rasanya lebih baik jika kita semua menjadi kaya. Meskipun tidak sepenuhnya terhindar dari resiko melakukan keburukan, dengan adanya kekayaan yang lebih, kita jadi memiliki kapasitas lebih besar untuk menolong yang membutuhkan. Itu sudah satu nilai plus, bukan?
Saya harap kita semua terhindar dari kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan pola pikir.
***
ditulis sebagai rasa prihatin atas "mindset miskin" seperti yang dikisahkan pada catatan Facebook ini.
Puisi: Bukan Kontradiksi
Kebahagiaan satu orang
Bukan harus berarti
Kesedihan bagi yang lain
Keberhasilan satu orang
Bukan harus berarti
Kegagalan bagi yang lain
Tiap jalan untuk tiap insan
Akankah engkau hancurkan orang berhasil,
Dengan fitnah dan kedengkian,
Hanya karena engkau mendapat kegagalan
Dan kekecewaan?
Akankah itu
Memuaskan dirimu, atau
Memuaskan hawa nafsu
Yang selamanya takkan terpuaskan?
Bukan harus berarti
Kesedihan bagi yang lain
Keberhasilan satu orang
Bukan harus berarti
Kegagalan bagi yang lain
Tiap jalan untuk tiap insan
Akankah engkau hancurkan orang berhasil,
Dengan fitnah dan kedengkian,
Hanya karena engkau mendapat kegagalan
Dan kekecewaan?
Akankah itu
Memuaskan dirimu, atau
Memuaskan hawa nafsu
Yang selamanya takkan terpuaskan?
Sabtu, 10 Juni 2017
Perumpamaan Informasi dan Makanan dalam Situasi Kekinian
Sekarang sudah masuk Era Informasi. Semua serba terhubung, semua serba digital, semua serba internet.
Saya yang termasuk generasi peralihan analog ke digital, kadang pusing melihat betapa derasnya arus informasi membombardir otak saya yang hanya seberat tidak sampai 2 kg.
Masalahnya, dari semua informasi itu, hanya 10% yang bermanfaat. 90% di antaranya berupa hoaks dan faktap (fakta tidak penting). Hoaks jelas-jelas berita bohong, sehingga sudah pasti tidak bermanfaat. Sedangkan faktap memang merupakan sesuatu yang benar, tapi kurang berguna untuk kita (karena tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dsb.).
Masalah lainnya lagi, kita harus selalu aktif menyaring informasi yang kebanjiran itu. Otak kita harus selalu menyala, selalu memilah, aktif mencari dan tahu dengan jelas apa info yang mau dicari (jika tidak, bersiaplah kebanjiran dan hanyut dalam samudra internet penuh meme yang tidak jelas akan membawamu ke mana). Dan semua kegiatan ini sangat melelahkan otak kita bila dilakukan terus menerus berjam-jam nonstop, apalagi setiap saat orang selalu menatap layar smartphone kesayangan mereka.
Tiba-tiba saya jadi terpikir sebuah perumpamaan.
Mengonsumsi informasi di internet seperti makan permen cokelat. Rasanya memang nikmat dan bisa dimakan habis dalam sekali kunyah. Namun kalau kebanyakan bisa bikin diabetes.
Sedangkan, mengonsumsi informasi dari buku ibarat makan besar, daging dan sayuran. Memang lama untuk dicerna, tapi nilai gizinya lebih tinggi.
Intinya, meski kita ada dalam zaman yang digital ini, jangan lupakan kenyataan yang analog juga. Bahan bacaan jangan cuma konten internet saja, jangan lupa buku juga dibaca.
Saya yang termasuk generasi peralihan analog ke digital, kadang pusing melihat betapa derasnya arus informasi membombardir otak saya yang hanya seberat tidak sampai 2 kg.
Masalahnya, dari semua informasi itu, hanya 10% yang bermanfaat. 90% di antaranya berupa hoaks dan faktap (fakta tidak penting). Hoaks jelas-jelas berita bohong, sehingga sudah pasti tidak bermanfaat. Sedangkan faktap memang merupakan sesuatu yang benar, tapi kurang berguna untuk kita (karena tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dsb.).
Masalah lainnya lagi, kita harus selalu aktif menyaring informasi yang kebanjiran itu. Otak kita harus selalu menyala, selalu memilah, aktif mencari dan tahu dengan jelas apa info yang mau dicari (jika tidak, bersiaplah kebanjiran dan hanyut dalam samudra internet penuh meme yang tidak jelas akan membawamu ke mana). Dan semua kegiatan ini sangat melelahkan otak kita bila dilakukan terus menerus berjam-jam nonstop, apalagi setiap saat orang selalu menatap layar smartphone kesayangan mereka.
Tiba-tiba saya jadi terpikir sebuah perumpamaan.
Mengonsumsi informasi di internet seperti makan permen cokelat. Rasanya memang nikmat dan bisa dimakan habis dalam sekali kunyah. Namun kalau kebanyakan bisa bikin diabetes.
Sedangkan, mengonsumsi informasi dari buku ibarat makan besar, daging dan sayuran. Memang lama untuk dicerna, tapi nilai gizinya lebih tinggi.
Intinya, meski kita ada dalam zaman yang digital ini, jangan lupakan kenyataan yang analog juga. Bahan bacaan jangan cuma konten internet saja, jangan lupa buku juga dibaca.
Jumat, 09 Juni 2017
Puisi: Berserah Darah
Aku bersimpuh
Berikan tetes darahku
Untukmu
Kau tenggak
Lantas kau meminta lagi
Catatkan di badanku sebuah luka
Lantas darahku kau tenggak lagi
Berikan tetes darahku
Untukmu
Kau tenggak
Lantas kau meminta lagi
Catatkan di badanku sebuah luka
Lantas darahku kau tenggak lagi
Rabu, 07 Juni 2017
Puisi: Potong Semua Sisi
Potong semua sisi
Batinmu
Sampai tinggal satu
Hanya untuk Tuhanmu
Potong semua sisi
Amarahmu
Dengkimu
Bencimu
Sampai tinggal satu
Untuk kebaikan dirimu
Potong semua sisi
Perspektifmu
Hingga hilang konflik picisan
Hingga nampak satu kebenaran
Batinmu
Sampai tinggal satu
Hanya untuk Tuhanmu
Potong semua sisi
Amarahmu
Dengkimu
Bencimu
Sampai tinggal satu
Untuk kebaikan dirimu
Potong semua sisi
Perspektifmu
Hingga hilang konflik picisan
Hingga nampak satu kebenaran
Selasa, 06 Juni 2017
Pagi Sepi Inspirasi
Pagi ini saya bangun dengan kepala kosong. Tidak ada ide dan inspirasi sama sekali. Mungkin ini disebabkan saya tidur tidak nyenyak (atau terlalu nyenyak), depresi laten, atau faktor-faktor lain yang tidak semuanya saya ketahui.
Biarpun begitu, saya harus tetap menulis.
Setiap impian selalu memiliki halangan. Setiap tujuan niscaya memiliki penghalang. Bahkan dalam struktur cerita fiksi pun, selalu ada yang namanya konflik.
Bila tersandung penghalang, bagaimana sikap kita? Tetap maju, atau menyerah? Di situlah komitmen kita diuji. Di situlah Allah melihat kesungguhan kita. Allah pasti akan memberikan rezeki-Nya dan mengizinkan kita meraih tujuan yang kita cita-citakan, jika kita mau konsisten dan bersungguh-sungguh. Namun jika kita menyerah dan berhenti berusaha, sesungguhnya kita telah menganiaya diri kita sendiri.
Meski kosong ide pun, saya harus tetap menulis. Ide bisa datang sambil menulis. Kalau tak ada pun, keadaan kosongnya ide juga bisa dijadikan topik tulisan yang lumayan, bukan?
Yang penting kita tidak menyerah.
Biarpun begitu, saya harus tetap menulis.
Setiap impian selalu memiliki halangan. Setiap tujuan niscaya memiliki penghalang. Bahkan dalam struktur cerita fiksi pun, selalu ada yang namanya konflik.
Bila tersandung penghalang, bagaimana sikap kita? Tetap maju, atau menyerah? Di situlah komitmen kita diuji. Di situlah Allah melihat kesungguhan kita. Allah pasti akan memberikan rezeki-Nya dan mengizinkan kita meraih tujuan yang kita cita-citakan, jika kita mau konsisten dan bersungguh-sungguh. Namun jika kita menyerah dan berhenti berusaha, sesungguhnya kita telah menganiaya diri kita sendiri.
Meski kosong ide pun, saya harus tetap menulis. Ide bisa datang sambil menulis. Kalau tak ada pun, keadaan kosongnya ide juga bisa dijadikan topik tulisan yang lumayan, bukan?
Yang penting kita tidak menyerah.
Senin, 05 Juni 2017
Puisi: Tiada Ingat
Tiada ingat diriku
Akan pemberian
Kesempatan hidup
Menempuh ujian
Tiada ingat diriku
Bahwa dunia tak hanya duka
Suka ada, namun terlupa
Hanya nampak satu sisi roda dunia
Terlintas sifat ingkar
Memungkiri kebaikan, yang nampak buruk
Menyayangi keburukan, yang nampak baik
Ingatkan diriku
Bahwa aku aniaya pada diriku sendiri
Ku memohon ampun
Pada-Mu, sesungguhnya semua akan kembali
Akan pemberian
Kesempatan hidup
Menempuh ujian
Tiada ingat diriku
Bahwa dunia tak hanya duka
Suka ada, namun terlupa
Hanya nampak satu sisi roda dunia
Terlintas sifat ingkar
Memungkiri kebaikan, yang nampak buruk
Menyayangi keburukan, yang nampak baik
Ingatkan diriku
Bahwa aku aniaya pada diriku sendiri
Ku memohon ampun
Pada-Mu, sesungguhnya semua akan kembali
Minggu, 04 Juni 2017
Tentang Harga, yang Harus Selalu Dibayarkan
Di dunia ini tidak ada yang gratis. Selalu ada harga yang harus dibayar.
Harga tidak melulu soal moneter. Harga terhadap suatu hal bisa berarti waktu, usaha, resiko, dan semua yang harus kita keluarkan untuk meraih hal tersebut.
Untuk sesuatu yang bersifat materi, mungkin kita hanya perlu membayar harga berupa uang. Namun untuk sesuatu yang bersifat nonmateri, misalnya kesuksesan, kita harus membayarkan waktu, tenaga, menempuh berbagai resiko, dan menjaga konsistensi. Terkesan mahal? Begitulah, sebab tidak ada hal bagus yang harganya betul-betul murah. Lagipula, sesuatu yang terlampau murah dan mudah didapatkan tidaklah demikian berharga.
Mungkin karena itulah, jalan menuju kebaikan selalu lebih sulit ditempuh dibandingkan jalan menuju keburukan dan kerusakan. Itulah yang membuat kebaikan begitu berharga. Tinggal manusia memilih, apakah ia ingin menjadi manusia yang berharga di hadapan-Nya atau tidak.
Di dunia ini tidak ada yang gratis. Selalu ada harga yang harus dibayarkan.
Sebetulnya Tuhan Yang Maha Pengasih sudah sering memberikan nikmat secara gratis kepada manusia, namun manusia lebih sering abai dan menganiaya diri sendiri.
Harga tidak melulu soal moneter. Harga terhadap suatu hal bisa berarti waktu, usaha, resiko, dan semua yang harus kita keluarkan untuk meraih hal tersebut.
Untuk sesuatu yang bersifat materi, mungkin kita hanya perlu membayar harga berupa uang. Namun untuk sesuatu yang bersifat nonmateri, misalnya kesuksesan, kita harus membayarkan waktu, tenaga, menempuh berbagai resiko, dan menjaga konsistensi. Terkesan mahal? Begitulah, sebab tidak ada hal bagus yang harganya betul-betul murah. Lagipula, sesuatu yang terlampau murah dan mudah didapatkan tidaklah demikian berharga.
Mungkin karena itulah, jalan menuju kebaikan selalu lebih sulit ditempuh dibandingkan jalan menuju keburukan dan kerusakan. Itulah yang membuat kebaikan begitu berharga. Tinggal manusia memilih, apakah ia ingin menjadi manusia yang berharga di hadapan-Nya atau tidak.
Di dunia ini tidak ada yang gratis. Selalu ada harga yang harus dibayarkan.
Sebetulnya Tuhan Yang Maha Pengasih sudah sering memberikan nikmat secara gratis kepada manusia, namun manusia lebih sering abai dan menganiaya diri sendiri.
Sabtu, 03 Juni 2017
Karma Bukanlah Kutukan
Banyak orang menganggap karma itu sama dengan kutukan. Banyak orang memaknai karma sebagai sesuatu yang negatif. Padahal sesungguhnya tidak demikian.
Karma adalah hukum sebab akibat. Sesuatu yang kau tanam akan menjadi sesuatu yang kau panen, begitulah sederhananya. Bila menanam kebaikan, akan datang panen kebaikan. Bila menanam keburukan, akan datang panen keburukan.
Sebab akibat adalah mekanisme yang sangat halus, delicate. Saya teringat istilah butterfly effect. Orang lain menyebutnya "efek domino" atau "efek bola salju." Konsep itu mengatakan bahwa satu sebab kecil dapat menghasilkan rentetan kejadian yang berujung pada akibat yang besar. Syair lama berjudul For A Want Of A Nail bisa menjadi contoh yang bagus untuk menjelaskan konsep tersebut. Berikut syairnya, saya terjemahkan sekenanya:
Karena hilang sebatang paku, sepatu kuda tak dapat dipasang
Karena sepatu kuda tak dapat dipasang, kuda pun tak dapat ditunggangi
Karena kuda tak dapat ditungganggi, para ksatria jadi tak siap tempur
Karena para ksatria tak siap tempur, mereka kalah berperang
Karena kalah berperang, kerajaan pun jatuh
Betapa sebuah kerajaan dapat jatuh, hanya karena hilangnya sebatang paku
Begitulah, tindakan kecil pun ternyata dapat membikin dampak jangka panjang yang besar. Maka seyogyanya, kita berusaha berbuat baik meskipun sedikit dan sedapat mungkin menghindari berbuat buruk meski sedikit.
Tuhan Yang Maha Adil pun sudah mengatur secara proporsional ganjaran seperti apa yang akan kita dapatkan berdasarkan perbuatan kita, baik atau buruk.
Karma adalah hukum sebab akibat. Sesuatu yang kau tanam akan menjadi sesuatu yang kau panen, begitulah sederhananya. Bila menanam kebaikan, akan datang panen kebaikan. Bila menanam keburukan, akan datang panen keburukan.
Sebab akibat adalah mekanisme yang sangat halus, delicate. Saya teringat istilah butterfly effect. Orang lain menyebutnya "efek domino" atau "efek bola salju." Konsep itu mengatakan bahwa satu sebab kecil dapat menghasilkan rentetan kejadian yang berujung pada akibat yang besar. Syair lama berjudul For A Want Of A Nail bisa menjadi contoh yang bagus untuk menjelaskan konsep tersebut. Berikut syairnya, saya terjemahkan sekenanya:
Karena hilang sebatang paku, sepatu kuda tak dapat dipasang
Karena sepatu kuda tak dapat dipasang, kuda pun tak dapat ditunggangi
Karena kuda tak dapat ditungganggi, para ksatria jadi tak siap tempur
Karena para ksatria tak siap tempur, mereka kalah berperang
Karena kalah berperang, kerajaan pun jatuh
Betapa sebuah kerajaan dapat jatuh, hanya karena hilangnya sebatang paku
Begitulah, tindakan kecil pun ternyata dapat membikin dampak jangka panjang yang besar. Maka seyogyanya, kita berusaha berbuat baik meskipun sedikit dan sedapat mungkin menghindari berbuat buruk meski sedikit.
Tuhan Yang Maha Adil pun sudah mengatur secara proporsional ganjaran seperti apa yang akan kita dapatkan berdasarkan perbuatan kita, baik atau buruk.
Puisi: Ke Mana Teknologi Masa Depan Menuju
Kemajuan teknologi semakin pesat, semua jadi bisa dilakukan dengan mudah.
Namun jika kemudahan merajalela, akan ke manakah makna sebuah usaha?
Akankah setiap orang pergi ke dunia maya dan melupakan dunia nyata?
Akankah benda-benda analog yang nyata seluruhnya digantikan oleh "benda" digital yang lunak tak kasat mata?
Terkoneksi pada dunia, namun terputus pada jati diri
Apakah hakikat hati manusia itu? Sekadar kumpulan sirkuit elektronikkah?
Apakah mesin akan menancapkan kuasa sepenuhnya pada diri manusia
Namun jika kemudahan merajalela, akan ke manakah makna sebuah usaha?
Akankah setiap orang pergi ke dunia maya dan melupakan dunia nyata?
Akankah benda-benda analog yang nyata seluruhnya digantikan oleh "benda" digital yang lunak tak kasat mata?
Terkoneksi pada dunia, namun terputus pada jati diri
Apakah hakikat hati manusia itu? Sekadar kumpulan sirkuit elektronikkah?
Apakah mesin akan menancapkan kuasa sepenuhnya pada diri manusia
Jumat, 02 Juni 2017
Sekilas Tentang Candu
"Setiap orang memiliki candu," kata seseorang yang saya lupa namanya dan pernah saya baca di buku yang judulnya pun saya juga lupa. Tapi bila direnungkan, ada benarnya juga.
Setiap orang memiliki ketertarikan terhadap hal tertentu dan selera yang berbeda. Setiap orang juga memiliki sesuatu yang membuat mereka bersemangat untuk melakukan hal-hal yang sejalan dengan sesuatu itu. Kaum milenial menyebutnya renjana atau passion. Yang terpenting, ketertarikan itu dapat membuat hidup menjadi lebih baik. Itulah "candu" positif.
Tak bisa dipungkiri, dalam perjalanan hidup, seseorang dapat tertimpa musibah dan trauma. Untuk mengatasi trauma itu, orang melakukan coping mechanism atau mekanisme pelipuran. Biasanya untuk melipur luka psikis, orang akan melakukan suatu hal yang lain dan berusaha melupakan traumanya meski kadang tidak berhubungan. Misalnya, ketika stres orang dapat saja makan lebih banyak untuk melupakan stresnya. Ada juga kebiasaan lain yang mungkin dilakukan untuk pelipuran tersebut, misalnya melihat meme dan guyonan instan di internet, tidak makan, bekerja lebih giat dari biasanya, merokok atau bahkan mengonsumsi narkotika, sampai yang terburuk ialah bunuh diri. Di sinilah mulai muncul potensi "candu" negatif.
Sebagaimana kata pepatah bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kebiasaannya (atau candunya), maka sedapat mungkin kita perlu mengubah kebiasaan buruk kita menjadi kebiasaan baik. Tentu saja, itu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keinginan dan kuat, tindakan, dan konsistensi yang tidak sedikit.
Dan mungkin saja, menulis dapat menjadi salah satu alternatif candu yang baik untuk terapi jiwa kita semua.
Setiap orang memiliki ketertarikan terhadap hal tertentu dan selera yang berbeda. Setiap orang juga memiliki sesuatu yang membuat mereka bersemangat untuk melakukan hal-hal yang sejalan dengan sesuatu itu. Kaum milenial menyebutnya renjana atau passion. Yang terpenting, ketertarikan itu dapat membuat hidup menjadi lebih baik. Itulah "candu" positif.
Tak bisa dipungkiri, dalam perjalanan hidup, seseorang dapat tertimpa musibah dan trauma. Untuk mengatasi trauma itu, orang melakukan coping mechanism atau mekanisme pelipuran. Biasanya untuk melipur luka psikis, orang akan melakukan suatu hal yang lain dan berusaha melupakan traumanya meski kadang tidak berhubungan. Misalnya, ketika stres orang dapat saja makan lebih banyak untuk melupakan stresnya. Ada juga kebiasaan lain yang mungkin dilakukan untuk pelipuran tersebut, misalnya melihat meme dan guyonan instan di internet, tidak makan, bekerja lebih giat dari biasanya, merokok atau bahkan mengonsumsi narkotika, sampai yang terburuk ialah bunuh diri. Di sinilah mulai muncul potensi "candu" negatif.
Sebagaimana kata pepatah bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kebiasaannya (atau candunya), maka sedapat mungkin kita perlu mengubah kebiasaan buruk kita menjadi kebiasaan baik. Tentu saja, itu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keinginan dan kuat, tindakan, dan konsistensi yang tidak sedikit.
Dan mungkin saja, menulis dapat menjadi salah satu alternatif candu yang baik untuk terapi jiwa kita semua.
Langganan:
Komentar (Atom)