Aku mampu berikan satu
Namun engkau meminta dua
Kubantu engkau satu dan lain hal
Namun kau tetap merasa tak terbantu
Kuberi engkau jantungku
Namun engkau belum merasa cukup
Aku yakin kepadamu
Namun yakinkah engkau padaku?
Yakinkah engkau pada dirimu?
Senin, 12 Juni 2017
Minggu, 11 Juni 2017
Kejahatan Bisa Menjangkiti Siapa Pun
Banyak orang beranggapan bahwa kejahatan selalu "menempel" pada segolongan orang tertentu. Misalnya, orang-orang yang kaya, orang-orang berkedudukan tinggi, dan lain sebagainya. Maka muncullah pameo "harta, tahta, wanita" yang harus selalu diwaspadai bahkan kalau perlu dihindari.
Saya termasuk yang tidak percaya dengan anggapan demikian.
Semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk melakukan kejahatan, tak peduli bagaimana keadaannya ataupun dari golongan mana ia berasal. Begitupun tentang kebaikan. Orang kaya memang bisa jahat, namun tidak sedikit juga orang kaya yang baik. Orang miskin sebagian besar memang tak jahat, namun ada juga yang jahat.
Apa contohnya orang kaya jahat? Koruptor, cukong penebangan liar, dsb. Apa contohnya orang kaya baik? Para dermawan seperti Bill Gates.
Apa contohnya orang miskin baik? Para kaum papa yang bekerja keras. Apa contohnya orang miskin jahat? Begal, perampok, preman, dan lain sebagainya.
Sama saja.
Mungkin karena media banyak menggambarkan orang miskin sebagai kaum mulia dan kaum kaya sebagai antagonis, maka banyak orang membenci orang kaya dan membenci kekayaan. Bila direnungkan lagi, bukankah rasa benci terhadap orang kaya (kaum borjuis) itulah pupuk dasar dari paham komunisme?
Maka itu, rasanya lebih baik jika kita semua menjadi kaya. Meskipun tidak sepenuhnya terhindar dari resiko melakukan keburukan, dengan adanya kekayaan yang lebih, kita jadi memiliki kapasitas lebih besar untuk menolong yang membutuhkan. Itu sudah satu nilai plus, bukan?
Saya harap kita semua terhindar dari kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan pola pikir.
***
ditulis sebagai rasa prihatin atas "mindset miskin" seperti yang dikisahkan pada catatan Facebook ini.
Saya termasuk yang tidak percaya dengan anggapan demikian.
Semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk melakukan kejahatan, tak peduli bagaimana keadaannya ataupun dari golongan mana ia berasal. Begitupun tentang kebaikan. Orang kaya memang bisa jahat, namun tidak sedikit juga orang kaya yang baik. Orang miskin sebagian besar memang tak jahat, namun ada juga yang jahat.
Apa contohnya orang kaya jahat? Koruptor, cukong penebangan liar, dsb. Apa contohnya orang kaya baik? Para dermawan seperti Bill Gates.
Apa contohnya orang miskin baik? Para kaum papa yang bekerja keras. Apa contohnya orang miskin jahat? Begal, perampok, preman, dan lain sebagainya.
Sama saja.
Mungkin karena media banyak menggambarkan orang miskin sebagai kaum mulia dan kaum kaya sebagai antagonis, maka banyak orang membenci orang kaya dan membenci kekayaan. Bila direnungkan lagi, bukankah rasa benci terhadap orang kaya (kaum borjuis) itulah pupuk dasar dari paham komunisme?
Maka itu, rasanya lebih baik jika kita semua menjadi kaya. Meskipun tidak sepenuhnya terhindar dari resiko melakukan keburukan, dengan adanya kekayaan yang lebih, kita jadi memiliki kapasitas lebih besar untuk menolong yang membutuhkan. Itu sudah satu nilai plus, bukan?
Saya harap kita semua terhindar dari kemiskinan, baik kemiskinan harta maupun kemiskinan pola pikir.
***
ditulis sebagai rasa prihatin atas "mindset miskin" seperti yang dikisahkan pada catatan Facebook ini.
Puisi: Bukan Kontradiksi
Kebahagiaan satu orang
Bukan harus berarti
Kesedihan bagi yang lain
Keberhasilan satu orang
Bukan harus berarti
Kegagalan bagi yang lain
Tiap jalan untuk tiap insan
Akankah engkau hancurkan orang berhasil,
Dengan fitnah dan kedengkian,
Hanya karena engkau mendapat kegagalan
Dan kekecewaan?
Akankah itu
Memuaskan dirimu, atau
Memuaskan hawa nafsu
Yang selamanya takkan terpuaskan?
Bukan harus berarti
Kesedihan bagi yang lain
Keberhasilan satu orang
Bukan harus berarti
Kegagalan bagi yang lain
Tiap jalan untuk tiap insan
Akankah engkau hancurkan orang berhasil,
Dengan fitnah dan kedengkian,
Hanya karena engkau mendapat kegagalan
Dan kekecewaan?
Akankah itu
Memuaskan dirimu, atau
Memuaskan hawa nafsu
Yang selamanya takkan terpuaskan?
Sabtu, 10 Juni 2017
Perumpamaan Informasi dan Makanan dalam Situasi Kekinian
Sekarang sudah masuk Era Informasi. Semua serba terhubung, semua serba digital, semua serba internet.
Saya yang termasuk generasi peralihan analog ke digital, kadang pusing melihat betapa derasnya arus informasi membombardir otak saya yang hanya seberat tidak sampai 2 kg.
Masalahnya, dari semua informasi itu, hanya 10% yang bermanfaat. 90% di antaranya berupa hoaks dan faktap (fakta tidak penting). Hoaks jelas-jelas berita bohong, sehingga sudah pasti tidak bermanfaat. Sedangkan faktap memang merupakan sesuatu yang benar, tapi kurang berguna untuk kita (karena tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dsb.).
Masalah lainnya lagi, kita harus selalu aktif menyaring informasi yang kebanjiran itu. Otak kita harus selalu menyala, selalu memilah, aktif mencari dan tahu dengan jelas apa info yang mau dicari (jika tidak, bersiaplah kebanjiran dan hanyut dalam samudra internet penuh meme yang tidak jelas akan membawamu ke mana). Dan semua kegiatan ini sangat melelahkan otak kita bila dilakukan terus menerus berjam-jam nonstop, apalagi setiap saat orang selalu menatap layar smartphone kesayangan mereka.
Tiba-tiba saya jadi terpikir sebuah perumpamaan.
Mengonsumsi informasi di internet seperti makan permen cokelat. Rasanya memang nikmat dan bisa dimakan habis dalam sekali kunyah. Namun kalau kebanyakan bisa bikin diabetes.
Sedangkan, mengonsumsi informasi dari buku ibarat makan besar, daging dan sayuran. Memang lama untuk dicerna, tapi nilai gizinya lebih tinggi.
Intinya, meski kita ada dalam zaman yang digital ini, jangan lupakan kenyataan yang analog juga. Bahan bacaan jangan cuma konten internet saja, jangan lupa buku juga dibaca.
Saya yang termasuk generasi peralihan analog ke digital, kadang pusing melihat betapa derasnya arus informasi membombardir otak saya yang hanya seberat tidak sampai 2 kg.
Masalahnya, dari semua informasi itu, hanya 10% yang bermanfaat. 90% di antaranya berupa hoaks dan faktap (fakta tidak penting). Hoaks jelas-jelas berita bohong, sehingga sudah pasti tidak bermanfaat. Sedangkan faktap memang merupakan sesuatu yang benar, tapi kurang berguna untuk kita (karena tidak ada sangkut pautnya dengan kita, dsb.).
Masalah lainnya lagi, kita harus selalu aktif menyaring informasi yang kebanjiran itu. Otak kita harus selalu menyala, selalu memilah, aktif mencari dan tahu dengan jelas apa info yang mau dicari (jika tidak, bersiaplah kebanjiran dan hanyut dalam samudra internet penuh meme yang tidak jelas akan membawamu ke mana). Dan semua kegiatan ini sangat melelahkan otak kita bila dilakukan terus menerus berjam-jam nonstop, apalagi setiap saat orang selalu menatap layar smartphone kesayangan mereka.
Tiba-tiba saya jadi terpikir sebuah perumpamaan.
Mengonsumsi informasi di internet seperti makan permen cokelat. Rasanya memang nikmat dan bisa dimakan habis dalam sekali kunyah. Namun kalau kebanyakan bisa bikin diabetes.
Sedangkan, mengonsumsi informasi dari buku ibarat makan besar, daging dan sayuran. Memang lama untuk dicerna, tapi nilai gizinya lebih tinggi.
Intinya, meski kita ada dalam zaman yang digital ini, jangan lupakan kenyataan yang analog juga. Bahan bacaan jangan cuma konten internet saja, jangan lupa buku juga dibaca.
Jumat, 09 Juni 2017
Puisi: Berserah Darah
Aku bersimpuh
Berikan tetes darahku
Untukmu
Kau tenggak
Lantas kau meminta lagi
Catatkan di badanku sebuah luka
Lantas darahku kau tenggak lagi
Berikan tetes darahku
Untukmu
Kau tenggak
Lantas kau meminta lagi
Catatkan di badanku sebuah luka
Lantas darahku kau tenggak lagi
Rabu, 07 Juni 2017
Puisi: Potong Semua Sisi
Potong semua sisi
Batinmu
Sampai tinggal satu
Hanya untuk Tuhanmu
Potong semua sisi
Amarahmu
Dengkimu
Bencimu
Sampai tinggal satu
Untuk kebaikan dirimu
Potong semua sisi
Perspektifmu
Hingga hilang konflik picisan
Hingga nampak satu kebenaran
Batinmu
Sampai tinggal satu
Hanya untuk Tuhanmu
Potong semua sisi
Amarahmu
Dengkimu
Bencimu
Sampai tinggal satu
Untuk kebaikan dirimu
Potong semua sisi
Perspektifmu
Hingga hilang konflik picisan
Hingga nampak satu kebenaran
Selasa, 06 Juni 2017
Pagi Sepi Inspirasi
Pagi ini saya bangun dengan kepala kosong. Tidak ada ide dan inspirasi sama sekali. Mungkin ini disebabkan saya tidur tidak nyenyak (atau terlalu nyenyak), depresi laten, atau faktor-faktor lain yang tidak semuanya saya ketahui.
Biarpun begitu, saya harus tetap menulis.
Setiap impian selalu memiliki halangan. Setiap tujuan niscaya memiliki penghalang. Bahkan dalam struktur cerita fiksi pun, selalu ada yang namanya konflik.
Bila tersandung penghalang, bagaimana sikap kita? Tetap maju, atau menyerah? Di situlah komitmen kita diuji. Di situlah Allah melihat kesungguhan kita. Allah pasti akan memberikan rezeki-Nya dan mengizinkan kita meraih tujuan yang kita cita-citakan, jika kita mau konsisten dan bersungguh-sungguh. Namun jika kita menyerah dan berhenti berusaha, sesungguhnya kita telah menganiaya diri kita sendiri.
Meski kosong ide pun, saya harus tetap menulis. Ide bisa datang sambil menulis. Kalau tak ada pun, keadaan kosongnya ide juga bisa dijadikan topik tulisan yang lumayan, bukan?
Yang penting kita tidak menyerah.
Biarpun begitu, saya harus tetap menulis.
Setiap impian selalu memiliki halangan. Setiap tujuan niscaya memiliki penghalang. Bahkan dalam struktur cerita fiksi pun, selalu ada yang namanya konflik.
Bila tersandung penghalang, bagaimana sikap kita? Tetap maju, atau menyerah? Di situlah komitmen kita diuji. Di situlah Allah melihat kesungguhan kita. Allah pasti akan memberikan rezeki-Nya dan mengizinkan kita meraih tujuan yang kita cita-citakan, jika kita mau konsisten dan bersungguh-sungguh. Namun jika kita menyerah dan berhenti berusaha, sesungguhnya kita telah menganiaya diri kita sendiri.
Meski kosong ide pun, saya harus tetap menulis. Ide bisa datang sambil menulis. Kalau tak ada pun, keadaan kosongnya ide juga bisa dijadikan topik tulisan yang lumayan, bukan?
Yang penting kita tidak menyerah.
Langganan:
Postingan (Atom)